PARADIGMA TEOLOGI ANTROPOSENTRISME HASSAN HANAFI
Abstract
This article focused on Hassan Hanafi’s paradigm of Islamic theology. As it is known that Hassan Hanafi is a contemporer Islamic thinker and philosopher from Egypt, whose Islamic theological thinking is very progressive and revolutionary. According to him that classic Islamic theology is no longer able to answer the modern challenges. This is because Islamic classic theology has long shackled moslems in different situations, spaces and times, resulting in this theology being dry of meaning and unable to engage in dialectics with the realities and phenomena of life. And then Hanafi tried to re-elaborate the arguments from Al-Qur’an and hadits nabawi by using phenomenological and dialectical analysis knife. Hanafi no longer used theological arguments to prove God’s omnipotence and holiness. However, he uses these propositions only as a guide for moslems, so that they can apply them in their lives. Indeed, this kind of theological concept is the same ones put forward by other contemporer Islamic thinkers, such as Mohammed Arkoun, Mohammed Abied al-Jabiri, Faried Issac and others. Hanafi has tried to reconstruct classical Islamic theology from theocentric to anthropocentric. Subsequently, he implemented it in the Islamic Left movement and Islamic Liberation Theology, so that it can inspire other Islamic thinkers to re-elaborate Islamic theology that can make a positive contribution to the lives of moslems.
Artikel ini membahas tentang paradigma teologi Islam dalam pandangan Hassan Hanafi. Sebagaimana diketahui bahwasanya Hassan Hanafi merupakan seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal negeri Mesir, yang mana pemikiran teologi Islamnya sangat progresif dan revolusioner. Menurutnya, teologi Islam klasik tidak mampu lagi menjawab tantangan-tantangan modern. Hal itu disebabkan karena teologi Islam klasik telah lama membelenggu pemikiran kaum muslimin dalam situasi, ruang, dan waktu yang berbeda, hingga mengakibatkan teologi tersebut kering dari makna dan tidak mampu berdialektika dengan realitas dan fenomena kehidupan. Kemudian Hassan Hanafi mencoba untuk mengelaborasi kembali dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits nabawi dengan menggunakan pisau analisis fenomenologi dan dialektika. Hanafi tidak lagi menggunakan dalil-dalil teologi untuk membuktikan kemahakuasaan dan kesucian Tuhan. Akan tetapi, Hanafi mengunakan dalil-dalil tersebut hanya sebagai tuntunan bagi kaum muslimin agar mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. Sesungguhnya konsep teologi seperti ini jualah yang sama dikemukakan oleh para pemikir Islam kontemporer lainnya, seperti Muhammad Arkoun, M. Abied al-Jabiri, Faried Issac dan lain-lainnya. Hassan Hanafi telah mencoba untuk merekonstruksi teologi Islam klasik dari teologi yang bercorak teosentris kepada teologi yang bercorak antroposentris dan selanjutnya dia implementasikan dalam gerakan Kiri Islam dan Teologi Pembebasan Islam, sehingga dapat menginspirasi para pemikir Islam lainnya untuk mengelaborasi kembali teologi Islam yang dapat memberikan kontribusi positif bagi kehidupan kaum muslimin.