Syekh Abd al-Ra’uf al-Sinkili: Profil Ulama Nusantara Yang Mengharmonikan Antara Ajaran Tarekat dan Syariat
Syekh Abd al-Ra’uf al-Sinkili: Profil Ulama Nusantara Yang Mengharmonikan Antara Ajaran Tarekat dan Syariat
Abstract
Abstract: Syekh Abdur Rauf as-Sinkili: A Profile of Nusantara Ulama Who Harmonizes The Teachings of Tarekat And Syariat. This article presented a study of an Islamic reformation’s efforts which performed by Syekh Abdur Rauf as-Sinkili toward Islamic teachings of moslems in Aceh of early seventeenth century by means of harmonizing between tarekat and syariat teaching. As it’s known, at that time, many moslems of Aceh were fascinated by philosophical mysticism than syari’ah. Therefore, it is not surprising, that religious situation in Aceh was very favourable to the spread of more complex ideas and teachings of philosophical mysticism. There is no doubt that the rise of more articulate philosophical mysticism owed much to two great ulama of Aceh, namely Syekh Hamzah al-Fansuri and Syekh Syamsuddin as-Sumatrani. The two were the leading proponents of the Wahdatul Wujud mystico-philosophical interpretation of sufism and both were deeply influenced particulary by Ibn Arabi and al-Jili. Therefore, their teachings and doctrins accused heretic and heterodox mystics as opposed to the orthodox sufi such as Syekh ar-Raniri and Syekh as-Sinkili.
Abstrak: Syekh Abdur Rauf al-Sinkili: Profil Ulama Nusantara Yang Mengharmonikan Antara Ajaran Tarekat dan Syariat. Artikel ini mengetengahkan sebuah kajian tentang upaya pembaruan Islam yang dilakukan oleh Syekh Abdur Rauf as-Sinkili terhadap ajaran-ajaran Islam kaum muslimin di Aceh pada awal abad ke – 17 M dengan cara menyelaraskan antara ajaran tarekat dan syariat. Sebagaimana diketahui bahwasanya pada periode itu, kaum muslimin di Aceh lebih tertarik untuk mempelajari ajaran sufisme-filosofis daripada ajaran syariah. Hal itu tidak mengherankan karena situasi keagamaan di Aceh saat itu sangat mendukung bagi penyebaran gagasan-gagasan dan ajaran sufisik-filosofis yang lebih rumit. Tidak diragukan lagi bahwa kemunculan aliran sufisme-filosofis yang lebih artikulatif di tanah Aceh berhutang budi kepada Syekh Hamzah al-Fansuri dan Syekh Syamsuddin as-Sumatrani. Kedua ulama tersebut merupakan tokoh utama penafsiran sufisme Wahdatul Wujud yang bersifat sufistik-filosofis dan keduanya secara khusus sangat dipengaruhi oleh Ibnu Arabi dan al-Jili. Tentunya ajaran dan doktrin kedua ulama tersebut dianggap sebagai ajaran bid’ah dan sufisme heterodoks yang bertentangan dengan ajaran dan doktrin kaum sufi ortodoks, seperti Syekh Nuruddin ar-Raniri dan Syekh Abdur Rauf as-Sinkili.